Kamis, 07 April 2011

Biografi KH.Abdurrahman Wahid ( Gus Dur )



Kyai Haji Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur (lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 – meninggal di Jakarta, 30 Desember 2009 pada umur 69 tahun) adalah tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia keempat mulai tanggal 20 Oktober 1999 dan berakhir pada Sidang Istimewa MPR pada tanggal 23 Juli 2001. Beliau adalah mantan ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) Nahdlatul Ulama dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Beliau mendapat julukan “Gus”, yaitu panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati "abang" atau "mas". Kakek dari ayahnya adalah K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sementara kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Gus Dur menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri: Alisa, Yenny, Anita, dan Inayah.
Pendidikan pertama Gus Dur adalah SD KRIS di Jakarta, kemudian beliau pindah ke SD Mataram Perwari. Pada tahun 1954,beliau masuk ke Sekolah Menengah Pertama, tapi beliau tidak naik kelas. Ibunya lalu mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya dengan mengaji kepada KH. Ali Maksum di Pondok Pesantren Krapyak dan belajar di SMP. Setelah lulus, beliau pindah ke Magelang untuk memulai Pendidikan Muslim di Pesantren Tegalrejo, beliau mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun (seharusnya empat tahun). Tahun 1959, Gus Dur pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang. Di sana, beliau melanjutkan pendidikannya, beliau juga menerima pekerjaan pertamanya sebagai guru dan nantinya sebagai kepala sekolah madrasah.
Pada tahun 1963, Gus Dur menerima beasiswa dari Kementrian Agama untuk belajar di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir. Di Mesir, selain belajar beliau juga dipekerjakan di Kedutaan Besar Indonesia. Namun, beliau mengalami kegagalan di Mesir. Pendidikan prasarjana Gus Dur diselamatkan melalui beasiswa di Universitas Baghdad. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad tahun 1970, Gus Dur pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya. Dari Belanda, Gus Dur pergi ke Jerman dan Perancis sebelum kembali ke Indonesia tahun 1971.
Abdurrahman Wahid meneruskan kariernya sebagai jurnalis,menulis untuk majalah dan surat kabar Artikelnya diterima dengan baik dan ia mulai mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial. Dengan popularitas itu, beliau mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar. Meskipun memiliki karier yang sukses pada saat itu,Gus Dur masih merasa sulit hidup hanya dari satu sumber pencaharian dan beliau bekerja untuk mendapatkan pendapatan tambahan dengan menjual kacang dan mengantarkan es. Pada tahun 1974 Gusdur mendapat pekerjaan tambahan di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas dan segera mengembangkan reputasi baik. Satu tahun kemudian beliau menambah pekerjaannya dengan menjadi Guru Kitab Al Hikam.
Pada saat Musyawarah Nasional 1984, Gus Dur terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, faktor pendorongnya adalah karena reformasi yang dilakukan oleh beliau terhadap NU ketika organisasi tersebut dalam keadaan stagnasi/terhenti sehingga beliau mejadi populer di kalangan warga NU.
Terpilihnya Gus Dur dilihat positif oleh Suharto dan rezim Orde Baru. Penerimaan Gus Dur terhadap Pancasila sebagai ideologi negara bersamaan dengan citra moderatnya menjadikannya disukai oleh pejabat pemerintahan. Pada tahun 1985, Suharto menjadikan Gus Dur indoktrinator Pancasila. Meskipun beliau disukai oleh rezim, tapi beliau tidak segan untuk mengkritik pemerintah karena proyek Waduk Kedung Ombo yang didanai oleh Bank Dunia. Hal ini merenggangkan hubungan Gus Dur dengan pemerintah. Selama masa jabatan pertamanya, Gus Dur fokus dalam mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas sistem pendidikan pesantren sehingga dapat menandingi sekolah sekular.
Pada tahun 1998, rezim Soeharto jatuh dan membawa dampak pembentukan banyak partai politik baru, yang sebelumya hanya Golkar, PPP dan PDI. Diantara partai-partai tersebut yang paling penting adalah Partai Amanat Nasional bentukan Amien Rais dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) bentukan Megawati Soekarno Poetri. Pada Juni 1998, banyak orang dari komunitas NU meminta Gus Dur membentuk partai politik baru. Beliau tidak langsung mengimplementasikan ide tersebut. Namun pada Juli 1998 Gus Dur mulai menanggapi ide tersebut karena mendirikan partai politik merupakan satu-satunya cara untuk melawan Golkar dalam pemilihan umum.
Gus Dur banyak menerima penghargaan, pada tanggal 10 Maret 2004 beliau dinobatkan sebagai "Bapak Tionghoa" oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, yang selama ini dikenal sebagai kawasan Pecinan, hal itu disebakan pada bulan Januari 2001, Gus Dur mengumumkan bahwa Tahun Baru Cina (Imlek) menjadi hari libur opsional dan pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa. Gus Dur juga mendapat penghargaan dari Simon Wiethemthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia. Wahid mendapat penghargaan tersebut karena menurut mereka ia merupakan salah satu tokoh yang peduli terhadap persoalan HAM. Gus Dur memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles karena beliau dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas, salah satunya dalam membela umat beragama Konghucu di Indonesia dalam memperoleh hak-haknya yang sempat terpasung selama era orde baru. Pada 21 Juli 2010, meskipun telah meninggal, ia memperoleh Lifetime Achievement Award dalam Liputan 6 Awards 2010. Penghargaan ini diserahkan langsung kepada Sinta Nuriyah, istri Gus Dur. Pada 11 Agustus 2006, Gus Dur mendapatkan Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006. Penghargaan ini diberikan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Gus Dur dinilai memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekpresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di Indonesia.





Hal-hal yang menarik dari tokoh KH.Abdurrahman Wahid, antara lain :
1.KH.Abdurrahman Wahid adalah presiden Indonesia yang keempat;
2.Beliau adalah tokoh Muslim Indonesia sekaligus pemimpin politik;
3.Beliau adalah mantan ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) Nahdlatul Ulama dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB);
4.Cucu dari KH.Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdhotul Ulama;
5.Riwayat pendidikan beliau yang pernah menuntut ilmu di universitas-universitas ternama;
6.Sebelum menjabat sebagai presiden, beliau adalah seorang guru di pesantren, selain itu beliau juga mantan seorang penjual kacang dan pengantar es;
7.Beliau tidak segan untuk mengkritik siapapun yang bertindak salah;
8.Segala sesuatu yang akan beliau lakukan selalu difikirkan terlebih dahulu secara masak;
9.Keberhasilan beliau dalam mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas sistem pendidikan pesantren sehingga dapat menandingi sekolah sekular;
10.Banyak menerima penghargaan.

Refleksi diri
Saya sangat meneladani tokoh KH.Abdurrahman Wahid, beliau adalah pemimpin yang dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya. Meskipun beliau adalah tokoh muslim, tapi beliau tetap menghargai orang-orang non muslim dan kebiasaannya, dan memang sifat inilah yang seharusnya dimiliki oleh pemimpin di negara yang memiliki banyak keragaman seperti Indonesia. Sifat lain yang saya teladani adalah sosok Gus Dur yang teguh pendirian, apa yang beliau anggap benar tetap beliau pegang teguh walaupun banyak yang menentangnya. Beliau juga selalu menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia, dan membela hak kaum minoritas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar